The Candidate

"Bakti kami untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater. Merdeka!" Ijinkan aku untuk merperkenalkan siapa aku. Sebuah catatan kecil dari perjalanan hidupku........ Genggam erat persaudaraan ini.

Tuesday, March 28, 2006

Theirs Testimonials








Monday, March 27, 2006

Gelap Nyawang FM

Buat temen2 yang mau tau lebih, atau pengen denger lebih tentang serba-serbi kampanye pemilu calon presiden km itb Syahfitri Anita,

Baru aja mengudara pada pukul 6 pagi ini. Gelap Nyawang FM di depan perpustakaan pusat itb.
Launching perdana di Gelap Nyawang, Kantin Tambang, kemungkinan KBL secepatnya akan mengudara.

Jadi buat temen2 yang pengen tau lebih... ditunggu kedatangannya di spot-spot yang telah disebutkan sebelumnya.

see u

Tim Media

Saling Rusak Media Kampanye atau Rusak Karena Musibah?

Keluhan dari sang pembuat

Patung sapi yang gw bikin rusak! Lepas dari bagus atau jelek gw nyesel udah bikin tu patung, perlu nyari bahan, perlu tenaga, perlu mikir juga, perlu menguatkan diri buat tetep bertahan nyeselin yang berarti berkurang waktu bengong gw. Lepas dari musibah atau kesengajaan gw marah sama keadaan, melihat dengan mata kepala sendiri: patungnya ancur!!!

Datang dari kepedulian sama kemahasiswaan ITB yang gw anggap sebagai jembatan menuju masyarakat, gw putusin jg buat peduli sama pemilu km sekarang ini, penentu statis-dinamisnya kehidupan km nantinya. Gw anggap km dah jd tradisi semata, km harusnya bisa berfungsi lebih dan luar biasa meningkatkan kemudahan dan keefektifan dalam menjalani status mahasiswa. Gw tekenin maha, bukan siswa biasa! Gw bakal seneng dengan presiden km yang sadar bahwa organisasi merupakan suatu kerjasama menuju tujuan bersama, tentunya dengan target tujuan yang selevel buat km sebuah univ/institut.....

Saya seneng menghasilkan sesuatu yang akhirnya dilihat/didenger/dibaca dan diapresiasi banyak orag, perkara disukai atau engga itu urusan belakangan...yang jelas sesuatu yang "gw banget" bisa dilihat banyak orang...lo temen bilang berkarya...dan sapi superman itu adalah karyaku yang difasilitasi....saya senang! ga perlu banyak nyari bambu , beli kawat, nipisin bambunya, cari koran.....pokonya terserah gw tapi dibantuin!

Patung rusak mungkinkah suatu kesengajaan? Gw taro diatas, dan selanjutnya....****tergeletak begitu saja dibawah dengan kondisi yang ga banget! Anginkah? Kayanya engga deh, angin ribut baru kuat dorong tuh patung!! Keisengan siapa yah?! Kalo emang bener suatu keisengan ,***, sama sekali ini keisengan yang menurut gw sama sekali tidak menyenangkan!! Belum juga gw sebagai pembuatnya difoto eh dah rusak patungnya.

Tapi faktanya patungnya sudah rusak(mau bilang apa lagi!!)....ga mungkin balik jadi bener lagi. Kasian jg gw yah, bt abisss.....
Menurut kami :
Berkampanyelah dengan baik. Mari memberikan pelajaran demokrasi yang benar bagi kampus kita maupun Indonesia.

Anna Josefin-17004014(tim media Syahfitri Anita 4 President)

Sunday, March 05, 2006

Apakah Gerakan Mahasiswa?


Gerakan Mahasiswa merupakan kata yang tidak asing lagi bagi kita. Tetapi apa dan bagaimanakah Gerakan Mahasiswa itu?. Gerakan Mahasiswa adalah sejumlah aktivitas dan tindakan yang dilakukan secara sistematis (sadar dan terencana) guna mencapai suatu tujuan atau visi yang bersifat mengubah bentuk atau rupa dari suatu objek tertentu (transformasi) dan dilakukan oleh mahasiswa. Gerakan Mahasiswa sebagai salah satu gerakan sosial juga mempunyai prinsip yang khas dalam batasan permainannya yaitu Kebenaran Ilmiah. Lalu kenapa harus ada Gerakan Mahasiswa?.
Gerakan Mahasiswa muncul dari konsekuensi nilai dan tujuan pendidikan itu sendiri. Menurut John Dewey, pendidikan merupakan alat untuk mencapai sebuah perubahan dan kemajuan dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan menurut Paulo freire, pendidikan harus mampu menjawab tantangan yang ada di masyarakatnya. Dari pemikiran kedua filsuf pendidikan ini, maka kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan memiliki tujuan untuk melakukan transformasi sosial di masyarakat dan konsekuensinya adalah bahwa pendidikan harus berbasiskan realita masyarakatnya. Dan realita masyarakatnya sangatlah erat dengan kebudayaan masyarakat. Berarti pendidikan juga tidak boleh teralienasi dari kebudayaan masyarakat dan pada akhirnya harus memberikan sumbangsih dalam proses pembudayaan masyarakatnya. Pada tataran praktisnya gerakan mahasiswa mempunyai peranan struktural dan kultural untuk masyarakatnya. Struktural karena gerakan mahasiswa merupakan gerakan yang sistematis dan mempunyai tujuan. Kultural karena gerakan mahasiswa lahir dari konsekuensi tujuan pendidikan itu sendiri yaitu proses pembudayaan masyarakat.

Mahasiswa merupakan pemuda calon cendikiawan bangsa yang tengah digojlok dengan berbagai aktivitas akademik agar ia siap terjun dimasyarakatnya melakukan sebuah transformasi dengan menerapkan segala hal yang telah ia dapat dari masa pendidikan di universitas. Lalu mahasiswa seperti apakah yang dibutuhkan untuk menghasilkan generasi penerus bangsa yang berkualitas?. Menurut Anwar Ibrahim, seorang tokoh reformis Malaysia dalama bukunya “Renaissance of Asia” mengatakan bahwa mahasiswa yang dibutuhkan adalah mahasiswa yang multidimensional. Yang disamping ia penguasaan terhadap kajian bidang ilmunya ia juga memiliki penguasaan dan kemampuan berdialektika sehingga dalam masa-masanya di universitas ia melakukan berbagai pengembangan dan pengayaan diri. Proses pengayaan yang tidak tersentuh oleh bangku kuliah adalah merupakan tugas Gerakan Mahasiswa.


Lembaga Terpusat, Haruskah Ada?

Gerakan Mahasiswa dalam kampus ITB terdiri dari berbagai karakter, ada yang berbasiskan keilmuannya yang tertampung dalam himpunan masing-masiang jurusan dan ada juga yang berbasiskan kesenian, kebudayaan dan hobi yang tertampung dalam unit kegiatan mahasiswa. Perbedaan di satu sisi merupakan keunggulan dan di sisi lain dapat menjadi ancaman apabila kita tidak dapat mengatur dengan baik. Perbedaan bukan sesuatu penghalang justru itu adalah sesuatu yang dapat memberikan warna dalam aktivitas kemahasiswaan kita. Lalu haruskah setiap elemen kemahasiswaan yang berbeda itu bergerak masing-masing ataukah bersama-sama?.

Mari kita lihat kemungkinannya. Bila bergerak masing-masing maka akan ada dua kemungkinan, pertama elemen kemahasiswaan tersebut dapat menjadi produktif dan dapat terus berkarya tanpa ada hambatan dan kemungkinan kedua elemen kemahasiswaan tersebut dapat menjadi lemah, menemui hambatan yang menghalanginya untuk berkarya dan juga ada kemungkinan antar elemen kemahasiswaan justru saling melemahkan. Bila kita lihat keadaan kemahasiswaan kita beberapa waktu belakangan ini, maka dapat kita lihat bahwa keadaan kemahasiswaan kita berada dalam prediksi kedua. Kasus kaderisasi menjadi contoh bahwa himpunan bergerak sendiri-sendiri dan tidak menghasilkan sesuatu yang efektif. Berbagai cekalan terjadi terhadap gerakan himpunan dalam mengimplementasikan konsep kaderisasinya bahkan beberapa himpunan dikenakan sanksi seperti pembekuan IMG atau skorsing ketua kaderisasi HIMAFI dan pemberian sanksi yang sangat tidak manusiawi terhadap mahasiswa 2004 fisika yang mengikuti kaderisasi tersebut.

Terlihat bahwa ternyata pergerakan elemen kemahasiswaan tanpa terkoordinir dengan baik tidak menghasilkan sebuah perubahan yang efektif dan sangat disayangkan menghalangi mahasiswa dan organisasinya sendiri untuk beraktualisasi dan melakukan pengayaan diri. Pada akhirnya hal ini malah mencekal kita untuk meraih tujuan dari gerakan mahasiswa itu sendiri. Jika himpunan dan unit dapat menampung aspirasi mahasiswa berdasarkan keilmuan dan minatnya masing-masing maka pertanyaannya siapakah yang dapat menampung kepentingan dan kebutuhan bersama mahasiswa? Siapakah yang harus mengkoordinasikan berbagai elemen kemahasiswaan sehingga tidak terjadi tumpang tindih dalam aktivitas pemenuhan kebutuhan mahasiswa, yang dapat menghindari inefisiensi gerakan kita?. Masih butuhkah lembaga terpusat? Maka jawabannya adalah Ya dengan tujuan mengkoordinasikan Gerakan Mahasiswa ITB dan memfasilitasi kebutuhan aktualisasi seluruh mahasiswa ITB.


Kemahasiswaan Terpusat Kita Saat Ini

Mengamati kemahasiswaan kita saat ini mungkin kita akan mendapatkan kabar gembira dan menyedihkan. Kegiatan himpunan dan unit dalam kampus begitu marak dan di luar kampus kegiatan Keluarga Mahasiswa cukup terdengar. Tetapi seperti disebutkan diatas beberapa himpunan dan mahasiswa mengalami hambatan. Tetapi kemanakah arah dari semua aktivitas kemahasiswaan kita ini?. Bagaimanakah prosesnya?. Siapakah yang terlibat?.

Secara eksternal, nama Keluarga Mahasiwa ITB sendiri cukup terdengar eksis dalam penyikapan isu nasional. Seandainya hal itu memang harus disikapi tetapi ada satu hal yang hilang yaitu proses penyikapan tersebut. Informasi yang tidak terkoordinir dengan baik membuat sebagian mahasiswa tidak tahu menahu dengan isu-isu tersebut dan bahkan lebih jauh lagi banyak yang tidak setuju. Padahal pandangan yang tercipta di mata publik adalah bahwa penyikapan itu adalah suara seluruh anggota keluarga mahasiswa ITB. Ada proses pewacanaan yang hilang dari interaksi kemahasiswaan kita saat ini.

Secara internal, kasus yang sering terdengar menimpa semua himpunan adalah aturan kaderisasi dan interaksi 2005 yang begitu ketat. Semua himpunan mencoba cara masing-masing untuk menghadapi hal tersebut. Sebagian berhasil dan sebagian lagi tidak. Kemandirian gerakan mahasiswa telah terenggut, rektorat yang seharusnya menjadi mitra yang partisipatif dan memberikan masukan melalui dialog, kini sudah berubah. Dialog yang tercipta lebih memberikan represi dan pengaturan yang ketat. Tidak ada lagi kebebasan dalam berekspresi. Ditambah lagi kurangnya peranan lembaga sentral dalam mengkoordinasi permasalahan bersama ini. Atau dengan kata lain kurangnya pengakaran kabinet terhadap lembaga yang menjadi basis massanya.

Lalu bagaimana pandangan mahasiswa terhadap karakter kemahasiswaan terpusat kita saat ini. Sangat disayangkan, banyak mahasiswa yang sudah jemu dan menyatakan tidak peduli terhadap ada atau tidaknya KM ITB. KM ITB dipandang memiliki satu warna dan bergerak hanya di tataran politis saja atau dengan kata lain banyak yang sudah mencap KM sebagai salah satu unit khususnya unit politik. Lalu bagaimana KM akan menjalankan perannya sebagai lembaga sentral maahsiswa jika mahasiswanya sendiri sudah tidak peduli, sudah jenuh?. Haruskah kita juga ikut tidak peduli padahal kita tahu fungsi dan tujuan dari gerakan mahasiswa itu sendiri terhadap masyarakat dan aktualisasi mahasiswa sebagai calon penerus bangsa?. Tidak, Gerakan Mahasiswa harus tetap berdiri sebagai konsekuensi logis dari proses pendidikan.

Tawaran Saya…

Melihat berbagai fenomena yang menyedihkan bagi perkembangan kemahasiswaan terpusat kita seharusnya tidak membuat kita diam. Menyadari pentingnya Gerakan Mahasiswa baik bagi masyarakat dan mahasiswa seharusnya membuat kita terpacu untuk terus berusaha.

Gerakan Mahasiswa seperti yang telah saya jabarkan di atas mempunyai peranan eksternal dan internal. Tetapi bagaimana peranan eksternal akan berjalan dnegan maksimum jika tidak didukung oleh suasana internalnya sendiri. Akankah mahasiswa mau melakukan interaksi sosial dengan realita masyarakatnya jika proses aktualisasinya sendiri mengalami hambatan?. Akankah suara, ajakan dan pendekatan yang dilakukan oleh lembaga sentral mahasiswa didengarkan jika lembaga ini sudah mereka pandang menjenuhkan, jika mendengar namanya saja sudah “anti”?. Kita memerlukan cara baru yang cerdas, segar atau bahkan nakal untuk kembali merepresentasikan kemahasiswaan terpusat ini ditengah keberagaman kita.

In Harmonia Progressio!!!

Luar BIasa........!!!Jamu Rasa Baru



Mari bermain dan belajar
dalam harmoni keberagaman!

Cerita singkat dibalik pencalonan Syahfitri anita (AMISCA ’02)

Mari bermain…!
Tentu anda kenal dengan Archimedes, Galileo,Einstein, Newman, ness, Soekarno…dll. Mereka segelintir dari berbagai nama orang-orang besar dizamannya. Cerdas? Tentu saja. Tapi yang pasti mereka adalah orang-orang yang ”nakal”. Nakal disini adalah keberanian untuk berpikir beda dan mungkin aneh untuk masyarakatnya saat itu. Keberanian untuk lepas dari kungkungan zaman dan melesat guna menorehkan sejarah bagi pengetahuan dan kemanusiaan. Darimanakah keberanian itu muncul ? itu muncul dari pengakuan akan hakikat manusia sebagai mahluk bermain (homo ludens). Dimana proses berpikir, bertingkah laku, dan bergaul adalah wujud dari keinginan memuaskan kemanusiaannya itu sendiri. Tanpa itu, manusia tidak lebih dari robot yang tanpa rasa. Dan permainan itu sendiri akan lebih bermakna kalau dilakukan secara bebas dan lepas. Sehingga sangat wajar jika kebebasan itu adalah harga mati bagi seorang manusia. Dengan bebas bermain itulah sebuah proses berpikir yang maju dapat dibangun.

Mari belajar…!
Hidup adalah proses. Proses untuk terus berubah menuju sesuatu yang lebih baik. Lingkungan dan pengalaman menjadi tempat kita bercermin. Berdialektika dengan alam guna membangun fondasi pengetahuan menuju kemanusiaan yang lebih baik. Karena perubahan hanya dapat terjadi kalau kita mau belajar dan terus belajar.
Sehingga dengan kebebasan untuk bermain dan keinginan untuk terus belajar, membuat kita menjadi manusia yang seutuhnya dan mampu berbuat banyak bagi bangsa dan kemanusiaan.
Mengapa pluralisme…
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural. Bangsa dengan beragam warna. Tapi, bagaimanakah kita memahami keberagaman yang ada? Itu harus dimulai dengan mengakui bahwa keberagaman itu adalah kondisi alamiah kita yang harus kita terima. Dengan pengakuan itu, kita akan memahami konflik yang terjadi sebagai sesuatu hal wajar. Sebagai wahana untuk saling mengisi dan mewarnai guna menghasilkan sesuatu yang lebih baik, yang akan terus berubah, dinamis dan maju. In harmonia progressio…
Sehingga, keberagaman pemikiran, perilaku, budaya adalah sesuatu yang harus kita jaga. Setiap usaha untuk menghilangkannya adalah sebuah usaha untuk membunuh manusia Indonesia.
Mari kita senandungkan keberagaman kita melalui sebuah simfoni kemahasiswaan yang harmonis, dimana kita akan terus belajar dalam suasana kebebasan bermain.
Untuk Tuhan Bangsa dan Almamater… merdeka!!!


Nyonya Syafiet Come to ITB